11 Kebahagian Halimah Mengasuh Nabi Akhir Zaman

Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang yang istimewa, luar biasa, dan  agung. Seorang yang menjadi sebab Dunia dan Akhirat diciptakan Tuhan. Jadi, apa saja yang berhubungan dengan Rasulullah SAW walaupun satu titik, lebih-lebih satu huruf, lebih-lebih satu perkataan, ada maknanya, ada arti, ada benda tersirat, ada benda yang patut kita cungkil supaya nampak.

HALIMAH SA’DIAH

HALIMAH adalah nama orang perempuan, kalau diterjemahkan, maknanya lemah lembut, berkasih sayang ataupun orang baik.

SA’DIAH, kalau kita merujuk kepada etnik, Halimah yang etniknya Bani Sa’ad. Kalau Sa’diah itu dirujuk kepada Halimah, maknanya Halimah yang bahagia.

Bekas Peninggalan Rumah Halimah (foto dari sini

Apa yang akan diperkatakan ialah Halimah yang bahagia. Sa’diah itu dirujuk kepada pribadi Halimah, bukan kepada etnik. Halimah yang lemah lembut yang bahagia. Tuhan memberi nama Halimah disebut Sa’diah, itu bukan kebetulan. Bukankah apa yang berhubungan dengan Rasulullah SAW, titik pun ada makna, betapalah 2 perkataan Halimah dan Sa’diah, tentu ada makna yang besar.

Di zaman jahiliah, sudah jadi tradisi atau sudah jadi budaya bahwa siapa melahirkan anak akan diserahkan kepada emak angkat. Tradisi ini sudah berpuluh tahun. Jadi, lahirlah dalam tahun itu 40 orang, 41 kalau dengan Rasulullah SAW. Ini isyarat bahwa 40 orang itu bakal menjadi sahabat Rasulullah SAW. Etnik Halimah ini pergi ke Mekkah hendak cari anak susu. Waktu pergi itu ada 41 orang bayi.

Karena keluarga Rasulullah SAW miskin, maka Rasulullah SAW dibungkus dengan kain buruk saja, sedangkan anak-anak orang lain yang 40 dibungkus dengan kain-kain yang baik. Bila rombongan Bani Sa’ad ini datang, anak-anak bayi itu semuanya diletakkan di Kaabah dan terlihat secara lahiriah mana yang nampak cantik diambil dulu. Rasulullah SAW, oleh emaknya yang miskin dibungkus dengan kain ala kadar. Tak ada yang minat pergi dan mengambil Rasulullah SAW. Hingga 40 bayi itu sudah diambil orang semua,  tinggal seorang saja yaitu Rasulullah SAW. Halimah dan suaminya tertinggal disebabkan untanya sudah tua. Mereka pergi bersama-sama, tapi sampainya tak sama, sebab unta halimah sudah tua.

Kebahagiaan Halimah yang Pertama:

Halimah berpikir “tak dapatlah bayi, kalau dapat pun tentulah dapat anak-anak miskin”. Bila dia lihat hanya tinggal seorang, dia pun pergi. Bila dia tengok bayi itu, keluar cahaya. Diapun rasa bahagia. Bayi ini bungkusnya saja buruk tapi mukanya bercahaya. Maka dia berkata pada suaminya, “Abang lihat, bayi ini bercahaya, untung kita jadikan anak.” Itu bahagia yang pertama. Itulah yang dimaksudkan Halimah yang bahagia.

Kebahagiaan Halimah yang Kedua:

Sudah jadi tradisi orang yang mendapat anak susuan, dia pergi menuju Hajar Aswad dulu sebelum balik. Di dekat Hajar Aswad, tiba tiba batu Hajar Aswad keluar dari sarangnya dan pergi kepada Rasulullah SAW dan terus mencium Rasulullah SAW. Terkejutlah Halimah. Halimah berkata, “bahagianya saya, bayi ini mesti ada masa depan.” Rencananya, dia hendak bawa Muhammad ke Kaabah untuk cium Hajar Aswad, tapi ternyata Hajar Aswad yang cium Rasulullah SAW. Maka dia berkata bayi ini ada masa depan, mesti jadi orang istimewa tapi tak tahu apa. Itulah bahagia yang kedua.

Kebahagiaan Halimah yang Ketiga:

Setelah itu, Halimah pulang dengan suaminya, yang lain sudah jauh meninggalkan mereka. Ketika mereka naik unta, terkejutlah mereka, unta tua itu jadi gagah. Unta tua itu dapat mendahului semua rombongan tadi, terkejut lagilah Halimah dan suaminya. Ini mesti ada kaitan dengan bayi ini. Dia berkata, “bahagianya kita bang dapat bayi yang luar biasa. Ini bahagia yang ketiga.

Kebahagiaan Halimah yang Keempat:

Ketika rombongan Bani Sa’ad dapat disusul, rombongan tersebut terkejut. Ada yang bertanya, “Apakah dapat unta baru?” Mereka berkata, “Halimah tunggu”. Akan tetapi unta itu terus saja.Bila sampai di rumah, Halimah terkejut, semenjak Rasulullah SAW ada di rumah, Halimah tak perlu pasang lampu, muka Rasulullah SAW bercahaya sepanjang masa. Terkejut suami isteri itu hingga berkata, “bertuahnya kita bang dapat bayi ini, dia mesti ada masa depan”. Inilah bahagia yang keempat.

Kebahagiaan Halimah yang Kelima:

Selama 4 tahun Rasulullah SAW dipelihara. Halimah itu orang miskin, seperti Siti Aminah yang juga miskin. Tapi semenjak dapat anak angkat Rasulullah SAW, rezekinya mewah. Mereka heran dan bahagia.

Kebahagiaan Halimah yang Keenam:

Semenjak dengan Halimah, Rasulullah SAW tak pernah minta makanan, dibagi dia makan tak dibagi dia tak minta. Tidak seperti bayi lain bila lapar minta makanan. Halimah dan suaminya heran, mengapa bayi ini diberi makan dimakan, tak diberi dia tak minta. “Bertuah kita bang, bahagialah kita.” Kemudian bila diberi makan tak pernah minta tambah. Anak kita tidak begaduh kakak beradik karena hendak tambah lauk. Rasulullah SAW tidak, berapa banyak dibagi, itu sajalah yang dia makan. Dia tak minta. Suami isteri heran, Rasulullah SAW tak pernah minta makanan. Kalau diberi makan, dia tak pernah minta tambah. Halimah kata pada suaminya, “bertuah kita bang dapat bayi ini.”

Kebahagiaan Halimah yang Ketujuh:

Selain tu, waktu ambil Rasulullah SAW sebagai anak susu, susu Halimah bertambah banyak, Halimah heran. Selama ini susunya bukan tak ada tapi tak begitu banyak. Tapi semenjak muncul Rasulullah SAW susu mencurah-curah. Anehnya, apabila sudah menyusu sebelah, Nabi Muhammad tutup mulut kuat-kuat. Halimah paham Rasulullah SAW mengajarkan bahwa yang sebelah lagi untuk abangnya, Damrah. Sejak kecil lagi Tuhan sudah masukkan keadilan pada Rasulullah SAW. Dia tak mau ganggu  bagian abangnya.

Kebahagiaan Halimah yang Kedelapan:

Rasulullah SAW ini tak pernah menangis, bayi seperti manapun menangis. Tapi Rasulullah SAW tidak. Halimah dan suaminya heran, bayi ini mesti ada masa depan. Ini bahagia yang kedelapan.

Kebahagiaan Halimah yang Kesembilan:

Suatu masa, Rasulullah SAW bermain-main dengan abang angkatnya yang bernama Damrah. Dia bermain di padang pasir. Tiba-tiba dia telentang seperti pingsan. Tapi abangnya melihat dia tidak pingsan, terbaring saja. Damrah memanggil emaknya, emak buru-buru melihatnya, adik ini kenapa? Jadi Halimah cepat-cepat datang, sampai kepada Rasulullah SAW dia pun peluk. Selepas Rasulullah SAW puas dipeluk, dia tanya, mengapa nak, apakah engkau sakit? Rasulullah SAW jawab, “ada 3 orang tangkap aku, dibelah dadaku tapi tak sakit, dibasuh-basuh kemudian dijahitnya tak sakit, itu saja.” Heran Halimah. Tak percaya anaknya yang berkata. Hendak percaya, apa iya? Halimah berkata pada suaminya, “bertuah kita bang, anak kita ini mengalami ini, ini mesti ada masa depan.”

Kebahagiaan Halimah yang Kesepuluh:

Kemudian setelah 4 tahun, Rasulullah SAW dibawa oleh Halimah untuk diserahkan kembali kepada emaknya. Bila diserah kembali dia tak tahu apa yang berlaku pada Rasulullah SAW, sebab hendak dapat informasi di zaman itu susah. Tiba-tiba ketika umur Rasulullah SAW 40 tahun terdengarlah berita oleh Halimah, rupanya anak susunya menjadi Rasul. Maka dia berkata pada suaminya, “tak sangka bang, anak susu kita, anak angkat kita jadi Rasul.” Bahagianya Halimah, suaminya pun merasa bahagia.

Kebahagiaan Halimah yang Kesebelas:
Tapi hendak berjumpa Rasulullah SAW susah, Halimah Islam di tangan orang lain bukan di tangan Rasulullah SAW. Pada satu hari, waktu dia sudah tua, satu kali dapat jumpa Rasulullah SAW. Waktu sudah tua bahagianya Halimah. Bertemu lagi setelah 40 tahun, setelah menjadi Rasul. Selepas itu Halimah mati. Itulah sekali perjumpaan dengan  Rasulullah SAW.
Cerita yang dibawa ni sesuai dengan nama Halimah yang dapat bahagia, banyak kebahagian yang Halimah dapat selepas dia mengasuh Rasulullah SAW. Ini menunjukkan apa saja yang berkaitan dengan Rasulullah SAW, walaupun satu titik dia ada makna, ada maksud, ada simbolik, cuma kita diberi faham atau tidak oleh Allah.

Kalau Allah bagi tahu, macam-macam dapat kita cungkil dari Rasulullah SAW walaupun satu huruf. Nama Halimah Sa’diah itu sesuai dengan pengalaman hidupnya. Sebab itu dalam Islam disuruh bagi nama pada anak yang baik-baik, itu doa. Moga-moga bayi itu bila dia besar sesuai dengan namanya. Jangan bagi nama yang tak baik atau nama orang kafir atau nama Yahudi, takut-takut Tuhan teruskan seperti itu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s